Foto: Hubungan Masyarakat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.
Pemerintah saat ini tengah menyiapkan 8 kebijakan stimulus ekonomi untuk semester II/2026 guna menjaga pertumbuhan ekonomi domestik di tengah meningkatnya tekanan akibat ketidakpastian geopolitik global. Berbagai insentif tersebut mencakup kebijakan perpajakan, transportasi, kepabeanan, ketenagakerjaan, hingga bantuan sosial dengan total anggaran mencapai Rp26,34 triliun.
Pada Konferensi Pers Menko Perekonomian Tentang Stimulus Ekonomi (Senin, 22/06/2026), Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menyampaikan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah proaktif untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional sekaligus mengantisipasi berbagai risiko eksternal yang berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia.
Dalam paparannya, Airlangga menyebutkan 8 kebijakan yang sedang disiapkan pemerintah. Berikut rinciannya. Pertama, stimulus Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 1,5% atas penghasilan royalti yang diterima penulis. Kebijakan tersebut disebut sebagai tindak lanjut atas komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan kemudahan perpajakan bagi penulis.
Kedua, insentif pada sektor transportasi periode libur sekolah. Stimulus tersebut meliputi potongan tarif kereta api sebesar 30%, potongan tarif dasar kapal PELNI sebesar 30%, pembebasan jasa kepelabuhan, serta Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100% atas tiket pesawat ekonomi domestik.
Ketiga, insentif sektor transportasi pada periode Natal 2026 serta Tahun Baru 2027. Stimulus tersebut akan disiapkan serupa dengan insentif yang diberikan pada sektor transportasi periode libur sekolah. Keempat, kebijakan bea masuk sebesar 0% atas impor LPG untuk industri petrokimia, bea masuk 0% atas bahan baku plastik, serta penurunan tarif bea masuk untuk suku cadang pesawat.
Menurut Airlangga, penghapusan bea masuk atas bahan baku plastik diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga karena plastik masih menjadi material kemasan yang digunakan secara luas dalam industri makanan. "Bea masuk bahan baku plastik 0% ini akan membantu terkait dengan inflasi mengingat hampir seluruh makanan dibungkus dengan plastik," tegas Airlangga.
Kelima, program magang nasional mulai Juli 2026 dengan target 150.000 peserta. Keenam, program pelatihan vokasi bagi 220.000 lulusan SMK dan 50.000 pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ketujuh, penyaluran bantuan pangan beras selama tiga bulan mulai Juli 2026 kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Terakhir, insentif berupa bantuan stabilisasi harga dan pasokan (SPHP) kedelai bagi pengrajin tahu dan tempe hingga Rp2.000 per kilogram dengan kuota 250.000 ton untuk daerah yang harga kedelainya berada di atas harga acuan pembelian (HAP).
Sebagai informasi, keseluruhan paket stimulus tersebut memerlukan anggaran sebesar Rp26,34 triliun, yang terdiri atas insentif transportasi sekitar Rp2,04 triliun, program magang dan pelatihan vokasi sebesar Rp6,26 triliun, serta bantuan pangan senilai Rp18,04 triliun.
