Tax Maturity Model, Bukti Empiris dari Australia, dan Mengapa Sebagian Besar Perusahaan Berhenti di Tangga Pertama
Penerapan cooperative compliance didasarkan pada hubungan kerja sama dan transparansi antara wajib pajak dan otoritas pajak. Untuk mendukung hubungan tersebut, wajib pajak perlu memiliki instrumen tata kelola yang menjadi bagian dari sistem pengendalian internal perusahaan. Pada titik inilah Tax Control Framework (TCF) dianggap sebagai prasyarat utama: TCF memastikan perusahaan secara proaktif memetakan, mengelola, dan memitigasi risiko perpajakannya.
Namun pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab bukanlah “apakah perusahaan punya TCF?”, melainkan “seberapa matang TCF itu?” Sebuah dokumen TCF setebal ratusan halaman bisa saja tidak bernilai apa pun bila tidak pernah diuji, sementara perusahaan lain dengan dokumentasi yang lebih ringkas namun teruji secara berkala justru memperoleh kepercayaan penuh dari otoritas pajak. Untuk menjawab pertanyaan itulah perusahaan dan otoritas pajak menggunakan tax maturity model — model yang menilai tingkat maturitas dan integrasi manajemen pajak internal di dalam perusahaan.
1. Kekosongan yang Ditinggalkan OECD
Satu hal yang perlu dipahami sejak awal: OECD dalam publikasi Co-operative Compliance: A Framework tidak memberikan pedoman khusus mengenai level maturitas sebuah TCF. OECD merumuskan apa saja yang harus ada dalam TCF (enam building blocks pada laporan 2016) dan bagaimana cara menilainya (wawancara manajemen, control testing, exception reports), tetapi berhenti sebelum menetapkan tangga bertingkat yang menyatakan kapan sebuah TCF layak disebut “matang”.
Kekosongan ini bukan kelalaian, melainkan pilihan sadar: OECD sejak awal menegaskan bahwa desain TCF harus mencerminkan ukuran, kompleksitas, dan karakter industri masing-masing perusahaan, sehingga standar maturitas tunggal berisiko menjadi terlalu kaku. Konsekuensinya, mayoritas yurisdiksi yang menerapkan cooperative compliance mengembangkan standar tax maturity level-nya sendiri — dan di sinilah keragaman model bermunculan.
2. Model Pertama: Turunan CMMI, COSO, dan COBIT
Perumusan tax maturity level yang paling luas digunakan pada dasarnya merupakan kombinasi dari beberapa kerangka maturitas organisasi yang sudah lebih dulu mapan di dunia manajemen dan teknologi informasi: Capability Maturity Model Integration (CMMI), Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO), dan Control Objectives for Information and Related Technologies (COBIT). Kerangka ini kemudian diadopsi secara masif oleh firma-firma akuntansi global untuk menilai apakah sistem TCF klien mereka sudah cukup matang untuk diajukan dalam program cooperative compliance. Tingkatannya umumnya sebagai berikut:
| Level | Karakteristik | Penanda yang Terlihat di Lapangan |
| 1. Initial | Proses perpajakan dan keuangan masih manual serta tidak terintegrasi; kepatuhan berjalan reaktif dan tidak konsisten. | Pelaporan bergantung pada individu tertentu; tidak ada dokumen kebijakan pajak; kesalahan baru ketahuan saat diperiksa otoritas. |
| 2. Informal | Mulai ada integrasi antara operasional bisnis dan proses keuangan meski masih rendah; sebagian proses konsisten namun belum terstandardisasi atau terotomatisasi. | Ada kebiasaan kerja yang baik, tetapi tidak tertulis; bila personel kunci keluar, prosesnya ikut hilang. |
| 3.Standardized | Proses kepatuhan memiliki panduan jelas, terdokumentasi, dan ditetapkan sebagai Standard Operating Procedure (SOP). | SOP tersedia dan bisa ditunjukkan kepada otoritas pajak — namun belum tentu ada bukti bahwa SOP itu benar-benar dijalankan. |
| 4. Managed | Proses diawasi secara proaktif oleh manajemen menggunakan indikator berbasis data, sehingga penyimpangan terdeteksi lebih awal. | Ada dashboard atau laporan berkala ke manajemen; exception report berjalan; deviasi tercatat dan ditindaklanjuti. |
| 5. Optimized | Proses terstandardisasi dan terintegrasi penuh, disertai continuous improvement; perusahaan mampu memberi assurance kepada otoritas maupun stakeholders. | Respons cepat terhadap perubahan regulasi; pengujian independen berkala; TCF ikut berubah saat model bisnis berubah. |
Perlu dicatat, kolom “penanda yang terlihat di lapangan” di atas merupakan penajaman praktis: batas antara Standardized dan Managed adalah titik paling menentukan, karena di sinilah TCF berhenti menjadi sekadar tumpukan dokumen dan mulai menjadi sistem yang benar-benar mengawasi dirinya sendiri.
3. Model Kedua: Skala Empat Level Selandia Baru
Selain kerangka turunan CMMI/COSO/COBIT, terdapat variasi tax maturity model alternatif yang bukan merupakan turunan dari ketiganya. Salah satunya diadopsi oleh Inland Revenue Selandia Baru dengan rincian sebagai berikut:
| Level | Karakteristik |
| 1. Emerging | Perusahaan telah memiliki proses tertentu untuk membangun beberapa kapabilitas dasar perpajakan, namun prosedurnya masih dijalankan secara ad hoc dan membutuhkan banyak perbaikan. |
| 2. Progressing | Berbagai perbaikan tata kelola pajak telah diinisiasi, tetapi belum diterapkan secara sistematis dan belum terinstitusionalisasi ke dalam budaya kerja organisasi. |
| 3. Established | Proses operasional yang tangguh telah diterapkan secara konsisten, menghasilkan kapabilitas pajak yang memadai dan telah melembaga dengan baik. |
| 4. Aspirational | Level tertinggi: perusahaan berada pada posisi proaktif dan prediktif dalam memitigasi berbagai risiko pajak. |
Perbedaan filosofis kedua model ini menarik untuk dicermati. Model turunan CMMI menekankan kematangan proses — sejauh mana proses telah distandardisasi, diukur, dan dioptimalkan. Sementara model Selandia Baru menekankan pelembagaan (institutionalisation) — sejauh mana praktik baik telah menyatu ke dalam budaya kerja organisasi, bukan sekadar terpasang sebagai prosedur. Kata kunci “belum terinstitusionalisasi” pada level Progressing menangkap persoalan yang sangat nyata: banyak perusahaan memiliki SOP yang rapi di atas kertas namun perilaku sehari-hari organisasinya belum berubah sama sekali.
4. Model Ketiga: Staged Rating ATO Australia dan Bukti Empirisnya
Model ketiga ini tidak disebut dalam pembahasan umum tax maturity model, namun justru paling instruktif karena tersedia data hasil penerapannya secara terbuka. Otoritas Pajak Australia (ATO) menerapkan metodologi justified trust dengan sistem penilaian bertingkat atas tata kelola pajak wajib pajak besar. Berbeda dari dua model sebelumnya yang bersifat deskriptif, ATO merumuskan tiap level berdasarkan jenis bukti yang harus diserahkan:
| Rating | Arti | Bukti yang Diminta |
| Red Flag | Tidak ada bukti objektif bahwa TCF eksis, atau ada kekhawatiran serius atas tata kelola pajaknya. | Contoh pemicu: kesalahan material terjadi dan TCF gagal mendeteksinya. |
| Stage 1 | TCF terbukti ada (exists). | Kebijakan pajak yang disahkan dewan direksi; prosedur penyusunan SPT terdokumentasi. Presentasi slide, draf kebijakan, atau deskripsi naratif tidak diterima. |
| Stage 2 | TCF ada dan dirancang secara efektif (designed effectively). | Gap analysis atas rancangan TCF, plus komitmen formal tingkat organisasi — disahkan dewan direksi — untuk menjalankan pengujian kendali internal secara berkala. |
| Stage 3 | TCF ada, dirancang efektif, dan benar-benar berjalan efektif dalam praktik (operating effectively). | Program pengujian kendali berkala beserta laporan hasilnya, disertai peninjauan dan pengujian independen. Laporan yang hanya memuat daftar pengecualian tidak mencukupi. |
Logika tiga tahap ATO ini elegan dalam kesederhanaannya: ada (exists) → dirancang dengan baik (designed effectively) → benar-benar berjalan (operating effectively). Tiga pertanyaan inilah yang sesungguhnya ingin dijawab setiap otoritas pajak, apa pun nama modelnya.
Apa Kata Data?
Inilah bagian yang paling jarang dibahas: berapa banyak perusahaan yang sebenarnya berhasil mencapai level tertinggi? Data ATO memberi jawaban yang mengejutkan sekaligus menyadarkan.
- Pada program Top 1000 tahun 2025, sebanyak 59% wajib pajak berada pada Stage 2 atau Stage 3, sementara 41% masih tertahan di Stage 1 — artinya, setelah bertahun-tahun program berjalan, lebih dari empat dari sepuluh perusahaan terbesar Australia masih hanya mampu membuktikan bahwa TCF mereka ‘ada’.
- Sebuah studi wawancara terhadap 22 wajib pajak korporasi besar Australia menemukan hanya sekitar 9% yang meraih Stage 3, sementara sekitar 41% di Stage 2 dan 36% masih di Stage 1.
- Pada program Top 100 — kelompok terbesar dan paling matang — barulah gambaran berbeda muncul: mayoritas peserta yang menjalani refresh review telah berada di Stage 3, dan per 30 Juni 2025 sekitar 64% dari Top 100 telah meraih overall high assurance (justified trust).
Pola ini mengungkap sesuatu yang penting: kematangan TCF berbanding lurus dengan lamanya keterlibatan dalam program dan besarnya sumber daya perusahaan. Bahkan di yurisdiksi maju dengan program yang telah berjalan sejak 2016, mencapai level tertinggi tetap merupakan pencapaian minoritas, bukan norma. ATO sendiri mengidentifikasi satu pengungkit yang paling menentukan: pengujian independen atas kendali pajak internal disebut sebagai cara tunggal paling efektif untuk menaikkan rating tata kelola.
5. Menyandingkan Ketiga Model
Meski berangkat dari tradisi berbeda, ketiga model tersebut dapat disandingkan secara kasar. Pemetaan berikut bukan padanan resmi dari otoritas mana pun, melainkan alat bantu praktis untuk membaca posisi TCF sebuah perusahaan lintas kerangka:
| Model CMMI/COSO/COBIT | Model Selandia Baru | Staged Rating ATO Australia |
| 1. Initial | 1. Emerging | Red Flag / belum Stage 1 |
| 2. Informal | 2. Progressing | Menuju Stage 1 |
| 3. Standardized | 2–3. Progressing–Established | Stage 1 (TCF exists) |
| 4. Managed | 3. Established | Stage 2 (designed effectively) |
| 5. Optimized | 4. Aspirational | Stage 3 (operating effectively) |
|
Insight: Jurang Terbesar Ada di Antara ‘Dirancang’ dan ‘Berjalan’ Bila ketiga model disandingkan, satu pola konsisten muncul. Lompatan tersulit bukanlah dari ‘tidak punya apa-apa’ menjadi ‘punya dokumen’ — langkah itu relatif mudah dan bisa diselesaikan dalam hitungan bulan dengan bantuan konsultan. Jurang yang sesungguhnya terletak antara Standardized/Stage 1 (dokumen ada) dan Managed–Optimized/Stage 3 (dokumen terbukti hidup). Menyeberangi jurang itu menuntut tiga hal yang tidak bisa dibeli secara instan: program pengujian kendali yang berjalan berkala, komitmen formal dewan direksi atas pengujian tersebut, dan hasil pengujian independen yang berani menampilkan temuan apa adanya — bukan sekadar laporan yang mendaftar pengecualian. Data ATO membuktikan jurang ini nyata: 41% perusahaan terbesar Australia masih terhenti di sisi seberangnya. |
6. Relevansi bagi Indonesia
Bagi perusahaan Indonesia yang bersiap menghadapi program cooperative compliance DJP — yang uji cobanya dimulai bersama Pertamina pada Juli 2026 — ketiga model di atas menawarkan tiga pelajaran praktis.
- Lakukan pemetaan mandiri lebih dulu. Menempatkan diri secara jujur pada tangga maturitas jauh lebih murah dibanding ditempatkan di sana oleh otoritas pajak. Pertanyaan diagnostiknya sederhana: bila hari ini otoritas meminta bukti bahwa TCF Anda dijalankan (bukan sekadar ada), dokumen apa yang bisa Anda serahkan?
- Prioritaskan pengujian, bukan penebalan dokumen. Pengalaman ATO menunjukkan pengujian independen atas kendali internal adalah pengungkit tunggal paling efektif untuk menaikkan level. Menambah halaman kebijakan tidak akan menggeser posisi Anda dari Stage 1.
- Kelola ekspektasi soal waktu. Di Australia, setelah program berjalan hampir satu dekade, mayoritas wajib pajak besar masih belum mencapai level tertinggi. Perusahaan Indonesia yang berharap mencapai kematangan penuh dalam satu-dua tahun perlu menyesuaikan ekspektasinya — dan justru karena itu, memulai lebih awal menjadi keunggulan strategis yang nyata.
7. Penutup
Tax maturity model pada akhirnya bukan alat untuk memberi nilai rapor kepada perusahaan, melainkan cermin yang memperlihatkan jarak antara apa yang tertulis dalam kebijakan pajak dan apa yang benar-benar terjadi setiap hari di organisasi. OECD sengaja tidak membakukan tangga maturitas ini, dan tiap yurisdiksi merumuskan versinya sendiri — tetapi semuanya menanyakan hal yang sama: apakah kendali pajak Anda ada, apakah ia dirancang dengan baik, dan apakah ia benar-benar bekerja? Dua pertanyaan pertama dijawab dengan dokumen. Pertanyaan ketiga — yang paling menentukan — hanya bisa dijawab dengan bukti pengujian. Di situlah letak perbedaan antara TCF yang dimiliki dan TCF yang dijalani.
Referensi
OECD, Co-operative Compliance: A Framework (2013).
OECD, Co-operative Tax Compliance: Building Better Tax Control Frameworks (2016).
Ortax, Bagaimana Tingkat Kesiapan Tax Control Framework Diukur? (10 Juli 2026).
Inland Revenue Selandia Baru, Initial guidance on tax control frameworks.
Australian Taxation Office, Reviewing tax governance for large public and multinational businesses; Tax Risk Management and Governance Review Guide; Findings Report Top 100 & Top 1000 (2025).
Austaxpolicy, A Matter of Trust? Corporate Taxpayers’ Experience with the ATO’s Justified Trust Program.




