Artikel

  • 13 Jun 2008

Mengelola Ekspektasi Para Pemangku Kepentingan (Managing Stakeholders Expectations)

Defiandry Taslim, SE., Ak., SH., MSi.
Director of Taxes PT INCO

mengelola_123Bagian ke-dua dari program pengembangan profesi Tax Specialist
“The Essence of Tax Specialist Profession”

 

Pada saat penulis ditanya oleh salah seorang adik kelas mengenai hal utama yang perlu dimiliki oleh seorang Tax Specialist untuk dapat bertahan dan berhasil, maka ada satu hal utama yang selanjutnya kami diskusikan secara panjang lebar yaitu “How to Manage Stakeholders Expectations”, atau bagaimana caranya kita dapat mengelola berbagai kepentingan dan harapan dari para pemangku kepentingan.

Tentunya akan kerap terjadi benturan diantara para pemangku kepentingan pada saat kepentingan tersebut bersinggungan satu sama lain. Hal ini dapat terjadi karena secara alamiah, para pemangku kepentingan tersebut akan berpegang pada beberapa prinsip ekonomi yang berlaku umum sebagai berikut:

  1. Memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.
  2. Semakin tinggi resiko investasi maka akan semakin tinggi potensi keuntungan yang akan didapat, sebaliknya, semakin rendah resiko investasi maka akan semakin rendah pula potensi keuntungan yang akan didapat.
  3. Beli di harga yang rendah dan jual diharga tinggi.
  4. Tundalah pembayaran kepada pemasok selama mungkin, tariklah setoran dari pelanggan secepat mungkin.
  5. Perbesar biaya pada perusahaan yang sedang untung, perkecil biaya pada perusahaan yang sedang rugi.
  6. Yang kuat akan memanfaatkan yang lemah.

dan mungkin pada beberapa hal lain yang pada intinya adalah untuk memenuhi tujuan para pemangku kepentingan, baik berupa keuntungan, target penerimaan, perluasan pangsa pasar, pengendalian/kekuasaan, pengaruh, dll yang pada akhirnya diharapkan akan dapat meng-optimalisasi hasil-hasil keuangan. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah hal itu dapat dilaksanakan sepenuhnya pada setiap proses pengambilan keputusan keuangan yang melibatkan para pemangku kepentingan dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda?

Seorang Tax Specialist yang baik harus senantiasa berpegang pada perencanaan strategis (strategic planning) yang telah ditetapkan oleh para pemilik atau dewan pengarah organisasi dan selanjutnya untuk dapat memahami tujuan-tujuan keuangan yang telah ditetapkan sebagai pegangan dalam menciptakan dan menerapkan strategi yang dijalankannya pada tingkat operasional sehari-hari.

Namun demikian, seiring dengan perkembangan perekonomian saat ini, baik global, regional, nasional (dimana salah satunya adalah otonomi daerah) yang semakin kompleks, berpegangan pada prinsip-prinsip ekonomi konvensional diatas saja tidak cukup bagi seorang Tax Specialist untuk dapat survive dan berhasil.

Kita sadari bahwa fakta yang ada adalah setiap organisasi:

  1. Memiliki visi dan misi,
  2. Memiliki perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang,
  3. Memiliki tujuan-tujuan keuangan,
  4. Memiliki Key Performance Indicator,
  5. Memiliki Prosedur Operasi Standar (SOP),
sendiri-sendiri yang tentunya akan senantiasi bersinggungan dengan kepentingan organisasi lainnya. Hal inilah yang menjadi awal dari tantangan dan kesempatan yang dihadapi oleh seorang Tax Specialist untuk dapat memahami, menganalisa, menghitung, menyimpulkan dan mengambil keputusan yang bijaksana dengan sebaik-baiknya.
 
Keputusan yang terbaik adalah keputusan yang akan membuat semua pihak yang terlibat merasa dimenangkan. Artinya, tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh para pihak dapat tercapai atau bahkan melebihi dari yang semula telah ditetapkan oleh para pemilik maupun pengarah organisasi. Namun, yang menjadi masalah adalah terbatasnya kemampuan para pihak untuk mengetahui dengan pasti ekspektasi dari para pihak lainnya pada saat proses negosiasi, transaksi maupun eksekusi dilaksanakan. Lebih penting lagi adalah tidak siap menghadapi apa yang dapat terjadi dikemudian hari atas obyek-obyek yang dipermasalahkan. Pada kenyataannya, kita tidak dapat setiap saat bisa membuat keputusan yang menyenangkan semua pihak, karena akan ada pihak yang merasa dirugikan pada saat pengambilan keputusan dilakukan.


Rentang Waktu (Span of Time)

Pertanyaan yang selanjutnya diajukan kepada penulis adalah siapa yang sebenarnya dimenangkan dalam setiap proses negosiasi, transaksi maupun pada saat eksekusi dilaksanakan???

WAKTU !!!. Proses negosiasi, transaksi, maupun eksekusi akan senantiasa dimenangkan oleh para pakar ekonomi, militer, pemimpin partai politik, pekerja profesional, pengusaha, dll., serta para Tax Specialist yang mempunyai kemampuan untuk menganalisa dan menetapkan beberapa skenario yang dapat terjadi dalam kurun “waktu” yang panjang.

Secara sederhana kita dapat mengacu pada beberapa kejadian dimasa lalu, seperti:

  1. Semakin menguatnya mata uang US$ terhadap Rupiah dalam waktu yang panjang
  2. Semakin tingginya harga bahan bakar / energi
  3. Semakin tingginya harga bahan-bahan tambang yang dulunya tidak berharga, seperti nikel, tembaga, bijih besi, dll.
  4. Semakin menguatnya IHSG selama beberapa tahun terakhir
  5. Semakin menguatnya perekonomian negara-negara Eropa setelah bergabung dalam European Union
  6. Keajaiban pertumbuhan ekonomi dan industri Cina dalam waktu yang relatif singkat.
  7. Semakin dibutuhkannya energi alternatif di masa depan seperti batu bara, bahan bakar nabati, energi matahari, air, angin, dll.
Tentunya akan mudah bagi kita untuk membahas hal-hal yang telah terjadi di masa lalu seperti contoh diatas dan berandai-andai mengenai apa yang dapat kita lakukan seandainya kita dapat mengetahui hal tersebut sebelum terjadi.

Namun jika kita mencoba untuk melihat kemasa depan, maka tentunya akan sangat sulit menyatukan pendapat mengenai apa yang akan terjadi berikutnya lima (5) sampai sepuluh (10) tahun kedepan dalam suatu forum yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dengan berbagai kepentingan yang berbeda.

Kita menyadari bahwa kemampuan memprediksi masa depan bukan milik setiap orang. Jika kita berusaha untuk menganalisa apa yang akan terjadi di masa depan maka kita dapat saja melakukannya bersama para ahli dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu yang berbeda-beda dan hal ini bukanlah proses yang sederhana. Namun demikian, para pemangku kepentingan akan memiliki perhitungannya sendiri-sendiri. Setiap keputusan yang diambil akan memiliki resiko, dimana setiap peramalan dilakukan berdasarkan asumsi-asumsi, setiap keputusan akan berakibat pada munculnya biaya, dan akan ada pihak yang merasa dirugikan dalam jangka panjang dengan terjadinya penyimpangan dari asumsi-asumsi awal, hilangnya kemampuan pengendalian, tekanan politik, bencana alam dan berbagai hal lain yang dapat terjadi dalam jangka waktu tertentu.
 
Untuk itu pada dasarnya para pihak dapat merancang tiga (3) options, yaitu Worst Scenario, Minimum Expectations dan Maximum Expectations dalam menentukan peringkat hasil-hasil yang akan dicapai. Opsi-opsi ini diharapkan akan membuat ekspektasi dari para pihak akan lebih realistis.


Output Expectation

Setelah memahami prinsip-prinsip dari opsi diatas, dalam mengelola ekspektasi dari berbagai pemangku kepentingan, maka seorang Tax Specialist hendaknya senantiasa membuat berbagai output skenario sebagai berikut:

  1. Worst Scenario (skenario terburuk)
  2. Minimum Expectations (espektasi rendah)
  3. Maximum Expectations (espektasi tinggi)

dari setiap keputusan dan proposal strategis yang diajukannya untuk memecahkan suatu masalah maupun menjawab suatu pertanyaan.

Berbagai tingkatan ekspektasi ini harus terlebih dahulu disampaikan kepada pemilik maupun pengarah organisasi agar mereka dapat memahami berbagai output yang timbul sebagai reaksi dari berbagai kepentingan pemangku kepentingan.

Untuk melatih kemampuan mengelola ekspektasi para pemangku kepentingan, maka seorang Tax Specialist dapat mulai menganalisa current issues yang saat ini sedang terjadi di sekitar kita. Contohnya:

  1. Mengapa Arcellor Mittal lebih memilih (maximum expectation) membeli sebagian saham PT Krakatau Steel, dibandingkan dengan mendirikan Joint Venture (minimum Expectations) baru dengan PT Krakatau Steel untuk menggarap proyek-proyek baru?
  2. Mengapa perusahaan tambang terbesar di dunia BHP Biliton berupaya untuk mengambil alih perusahaan tambang raksasa lainnya (Rio Tinto)?
  3. Mengapa PT Antam Tbk. dan PT Bumi Resources Tbk. saling berlomba menguasai bahan tambang yang dimiliki oleh Herald Resources?
  4. Bagaimanakah trend harga minyak dalam jangka waktu lima (5) s/d sepuluh (10) tahun kedepan, bagaimana pula dengan harga emas?
  5. Potensi apakah yang dimiliki oleh India untuk tumbuh berkembang pada masa yang akan datang?
  6. Bagaimanakah posisi Indonesia di antara negara-negara Asia Pacific selama jangka waktu sepuluh (10) sampai dengan dua puluh (20) tahun yang akan datang.
dan banyak hal lainnya yang bisa menjadi obyek “pelatihan” sebelum menghadapi hal yang sesungguhnya. Sekali lagi, output yang paling optimal tentunya akan didapat oleh pihak yang memiliki kemampuan analisa, dan berfikir secara sistematis dalam rentang waktu yang panjang. Kemampuan multi disiplin, pengalaman dan penelitian yang mendalam akan dapat menjadikan kita bisa membuat peramalan lebih akurat yang paling mendekati kenyataan di masa yang akan datang.
  • 13 Jun 2008

Disclaimer :

Isi dan Tanggapan pada Artikel ini diluar tanggung jawab Ortax.
Ortax tidak bertanggung jawab secara langsung maupun tidak langsung, atas segala kesalahan yang dapat terjadi yang dapat menyebabkan kerugian materi maupun non materi, akibat tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data dan informasi yang disajikan.


Tanggapan


P. SILITONGA
 21 Apr 2009
Perkenalkan saya newbie di forum ini, saya coba beri tanggapan singkat terutama yg sedikit kontra dgn tulisan ini.
Tulisan dari bpk Defiandry merupakan kelanjutan dari Artikel sebelumnya dgn judul " Tax Specialist sebagai suatu Profesi?" pada hal sebelumnya.
Saya kagum dgn Bpk Defiandry yg sebelumnya hanya sebagai Chief Accountant sekarang telah menjadi Direktur di bidang Perpajakan (Tax Specialist) Bravo utk Pak Defiandry. Tulisannnya sangat bagus dan menjadi motivasi bagi kita-kita untuk lebih memahami & ahli di bidang Pajak terutama bagi para tax specialist di perusahaan dgn perkembangan perpajakan indonesia yg sangat dinamis dgn segala perubahannya.
Kita tunggu tulisan bpk selanjutnya.
Regards
P.Silitonga

kastalistirenata
 6 Jan 2009
Salam kenal untuk semua ,

Saya setuju dengan pendapat sdr. Ritzky Firdaus namun ada juga yang perlu ditambahkan untuk menjadi seorang tax specialist yaitu :
update semua peraturan pajak which is always change without some publication before. thx
ocj788
 13 Des 2008
Sepertinya Tax Specialist kerjanya kok lebih mengarah ke finance ya?apa sama dng finance controller...mohon pencerahannya...
RITZKY FIRDAUS
 24 Sept 2008
Dear Friend Defiandry Taslim SE, Ak, SH, Msi.

Mana tulisan lainnya, kami tunggu untuk pencerahan.

Regard's

RITZKY FIRDAUS.
RITZKY FIRDAUS
 16 Sept 2008
Dear all,

Tax Specialist selain berkemampuan memiliki pengetahuan untuk menyajikan hasil berupa worst scenario, maximum expectation dan minimum expectation bagi Manajement, ybs. harus menambah kemahiran dalam melakukan Tax Manajement / Tax Planning dan last but not least yang bersangkutan harus memiliki Rahasia 5 I yang dikemukakan salah seorang Pencerah atau Pemberdaya Anggota Komunitas Ortax yaitu jika tidak keliru pencerahannya sbb:

I pertama adalah : Intelegensia, mengasah kecerdasan dari waktu ke waktu;
I ke dua adalah: Inisiatip yang selalu dikembangkan, tidak berserah diri dan tidak berkhayal serta tidak mudah menyerah;
I ke tiga adalah: Inovatif yaitu bekerja dengan penuh keyakinan untuk senantiasa menghasilkan Nilai Tambah;
I ke empat adalah: Informasi yaitu bersedia menerima dan mencari informasi supaya tidak ketinggalan berita disekitarnya untuk memanfaatkan peluang tepat pada waktunya.
I ke lima adalah: Insya ALLAH bahwa segala kesuksesan dan kegagaan adalah harus se-Izin dan Ridho Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Dan perlu saya tambahkan dengan I yang ke-enam yaitu INSENTIF atau IMBALAN yang memadai bagi hasil kerjanya.

Demikian tambahan atau Sumbangan Saran / Brainstorming for all friend's

Regard's

RITZKY FIRDAUS.

asma
 14 Agust 2008
Yup..., Saya yang paling mendukung pendapat rekan Alextjia.

Salam Damor ( Damai -Ortax)
ENDANG RASYID
 12 Agust 2008
Tax Specialist harus:
1. Belajar sepanjang hayat "Long Life Education" karena pengetahuan amat luas tetapi daya fikir manusia terbatas. Pengetahuan Perpajakan bersifat "dinamis"
2. Mampu merancang "Tax Planning" / "Perencanaan Pajak" yang tidak melanggar Peraturan Per UU Perpajakan, sehingga terhindar dari "Tax Evasion / Penyelundupan Pajak" dan terhindar dari "Tax Avoidance / Penghindaran Pajak"
3. Mampu Merencanakan Pembiayaan CSR (Corporate Social Responsibility) yang dapat di akui secar Fiskal al. di Indonesia dengan memperhatikan Ketentuan Penghasilan yang menjadi Obyek Pajak Pasal 4 UU PPh, Ketentuan Pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai Biaya Pasal 6 UU PPh jo Pasal 9 UU PPh.
4. Mampu membantu Organisasi Perusahaan dalam melakukan Penertiban yang berkesinambungan (suistanable) di bidang:
> Administrasi;
> Organisasi;
> Personil;
> Operasional; dan
> sarana / Prasarana.
5. Mawas diri berdasarkan "Analisis SWOT" yaitu kmengenal Kemampuan dan Kelemahan yang dimiliki, mahir memanfaatkan Peluang tepat waktu dan siap mrenghadapi dan menyelesaikan tantangan yang dihadapi.
Demikian tambahan informasi untuk diketahui seperlunya.
Warm regard's
ENDANG RASYID, R, Drs, MBA.
JAKARTA.-
EDDYPRASETYO
 19 Jul 2008
artikel ini berguna untuk menambah wawasan kita. pengetahuan fiskal saja tanpa didukung informasi yg lebih akurat akan tidak berkembang.
wiguna
 30 Jun 2008
artikel ini sepertinya ingin menjelaskan bahwa menjadi seorang tax specialist tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang fiskal saja, tetapi juga pengetahuan ekonomi secara umum/regional untuk memprediksi dampak dari kebijakan yang diambil oleh tax specialist terhadap operasional perusahaannya secara keseluruhan. Namun, untuk lebih sempurnanya artikel ini alangkah baiknya memang cakupan mengenai perekonomian secara global dikurangi bobotnya sehingga judul dimaksud (Tax Specialist) lebih sesuai dengan isinya.
sambudi
 29 Jun 2008
yth Pak Goro,
saya sependapat dengan Bapak, artikel ini memang PENGETAHUAN UMUM yang DIPAKSAKAN diberi judul TAX SPECIALIST. Menurut pendapat saya, artikel ini diberi judul APAPUN yang terkait dengan pengetahuan umum akan cocok. Sebagai bagian dari komunitas pajak, saya sangat kecewa atas pemuatan artikel ini di forum Ortax ini.
Salam hangat.
goro
 28 Jun 2008
Yth,

Saya mau sedikit memberikan komentar mengenai artikel ini, sebagai praktisi pajak untuk Regional Tax Asia (China, Vietnam, Singapore, dan Indonesia). Saya tidak sependapat dengan artikel ini. Pengetahuan ini tidak ditujukan kepada tax specialist. Ini hanya pengetahuan umum.

Job description yang saya jalankan adalah:

1. Memonitor RUU pajak yang berdampak terhadap business unit dan memaksimalkan laba setelah kena pajak untuk pemegang saham.
2. Memaintain profesional relationship dengan regional tax authorities.
3. Membuat skedul training pajak yang diperlukan untuk business unit.
4. Mempelari peraturan-peraturan yang terbaru untuk seluruh business unit di ASIA.
5. Melakukan integrasi dengan departemen2 terkait agar tax reporting, tax compliance, dan tax reconciliation berjalan berkesinambungan dan tepat waktu.
6. Memonitor pemeriksaan pajak dan banding jika terjadi sengketa pajak.
7. dll

Dengan job description saya yang begitu banyak, mana sempat saya memonitor indeks IHSG? Memangnya saya broker saham? Shareholders lebih tertarik dengan effective tax rate yang dibayar oleh business2 unit.

Saya tidak perduli dengan perkembangan ekonomi India, akan tetapi saya perduli untuk mempelajari UU pajak dan putusan pengadilan pajak di India, karena mewakili dari negara yang merupakan emerging countries seperti China.

Mohon maaf jika ada pendapat saya yg tidak berkenan. Ini hanya merupakan pendapat pribadi sebagai praktisi pajak di atas level Tax Director.

Ortax sangat membantu saya untuk memonitor perpajakan di Indonesia!

Goro Sanusi
Regional Tax Asia
David
 23 Jun 2008
Temen-Temen,
Tanggapan sekitar PMK22 harap dikirimkan ke Hot Issue halaman lainnya tulisan pak bastian, agar terkosentrasi dalam satu halaman, dengan demikian komunikasi dapat lebih efektif. OK ?
joshua
 22 Jun 2008
waktu!!!
saya juga sependapat dengan penulis, bahwasanya "waktu" merupakan elemen mendasar untuk dapat dilakukan perhitungan.
dunia berkembang semakin cepat, dan kita harus dapat berpikir secara sistematis mengenai apa yang akan terjadi di kemudian hari.
namun, walaupun kita telah memiliki kemampuan untuk meramal secara sistematis terhadap gejolak perkembangan dunia, namun saya pesimis apakah kemampuan tersebut dapat di aplikasikan di indonesia. dosen saya sering mengatakan bahwa "indonesia adalah negara tempat hal-hal aneh sering terjadi" dan hal tersebut memang selalu terjadi.
misalkan PMK22 yang diterbitkan baru-baru ini, dimana peraturan tersebut mengatur peraturan diatasnya (PP 80/2007), kemudian keluar lagi SE (saya lupa nomor SE-nya) yang mengatur PMK22. sehingga terjadi tumpang tindih. yang mana menurut hirarki perundang-undangan sudah salah. dan hal ini menimbulkan ketidakpastian, dan "meludahi" asumsi-asumsi yang telah kita buat.
dari sini saya bertanya, apakah pemikiran kita yang sistematis dengan instrumental asumsi-asumsi terhadap dimensi waktu yang telah kita buat dapat kita aplikasikan di indonesia??
Sugito
 20 Jun 2008
Rekan - Rekan ORTax,

Artikel ini bukan membahas tentang Tax Specialist, melainkan tentang Pengetahuan Umum.
jeffry
 20 Jun 2008
tax spesialist sangat dibutuhkan saat ini. semoga dimasa mendatang semakin banyak tax spesialist muda yang muncul sehingga perekonomian Indonesia dapat berkembang dengan tepat sasaran
Sugito
 20 Jun 2008
Yth. Mira & poernama

Hati-hati jika membaca artikel, dalam artikel ini sebenarnya mau menulis mengenai Tax Specialis tetapi melenceng ke pengetahuan umum, coba apa ada Tax Specialis yang bertanya mengenai posisi Indonesia di Asia Pasific, mengenai IHSG.
Salah interpretasi membuat kita kehilangan arah.
poernama
 20 Jun 2008
Terimakasih pak Taslim atas tulisannya, saya tambah yakin, semoga semakin banyak tax specialist di indonesia, sehingga tata kelola negara lebih baik, tax specialist adalah profesi yang akan diperhitungkan dimasa yang akan datang.
mira
 20 Jun 2008
Saya rasa pernyataan Pak Sugito kurang tepat. Menurut saya (CMIIW) yang dimaksud disini adalah memahami multidisiplin baik managemen, ekonomi makro maupun mikro bahkan pemasaran. Dengan menguasai multi disiplin ilmu kita memiliki kemampuan analisa dan berpikir secara sistematis. Beyond The Rule, ujung2nya Pajak adalah Analisa jika terjadi dispute. Mungkin Cara berpikir yang membedakan Tax Staf dan Tax Specialist.
Sugito
 20 Jun 2008
Mr.alextjia

Anda keliru memahami artikel ini.
Semua orang juga perlu mengetahui situasi dan kondisi disekitarnya , jika ini yang diperlukan maka anda cukup membaca koran atau majalah, bukannya membaca artikel pajak.
alextjia
 19 Jun 2008
Bagi saya artikel ini cukup menarik karena memberikan wawasan yang luas tentang pemahaman sebagai seorang tax specialist lebih luas tidak hanya menyangkut peraturan perpajakan atau undang undang pajak yang berlaku sekarang tapi lebih luas lagi bahwa seorang tax specialist juga seharusnya mengamati situasi dan kondisi sekitarnya yang terjadi saat ini sebagai dasar pengambilan keputusan-keputusan strategis jangka pendek atau jangka panjang yang berhubungan perpajakan dan perekonomian kita saat ini.
Menurut saya artikel ini membuka mata kita sebagai seorang karyawan yang mengeluti pekerjaan yang berhubungan pajak setiap hari bahwa wawasan dan pengetahuan displin ilmu yang lain perlu kita ketahui sebagai penunjang pengambilan keputusan-keputusan strategis. Terima kasih.
abinzz
 16 Jun 2008
waduh lagi2x saya kliru mengenai pemahaman mengenai
Tax Specialist Vs Tax Staff
maaf yah!!.. lain kali saya lebih teliti dan cermat

Makasih Pak Sony dan Pak Gavin.. telah di koreksi dan diingatkan
intinya Revisi PMK 22!!... ^_^
Sony
 16 Jun 2008
Duh, pak Abinzz memberi tanggapan diluar dari apa yang ditulis dalam artkel ini. Artikel ini membahas sedikit mengenai ILMU EKONOMI.

Yang dibicarakan dalam artikel ini adalah mengenai harga bahan bakar, IHSG, mata uang US, ekonomi industri di cina, potensi negara India , posisi Indonesia di Asia Pasific, energi alternatif dll. Apa urusannya dengan Tax specialist atau Tax Staff.

Saya menyarankan pak Abinzz merangkai kembali kata2 nya menjadi sebuah artikel, kata2 yang dipakai dalam tanggapannya sudah menggambarkan pekerjaan seorang Tax Specialist / Tax Staff, ayo donk selesaikan artikel nya.
Sugito
 16 Jun 2008
Mr.Pageup

ORTax merupakan forum komunitas pajak yang menyajikan informasi mengenai perpajakan, bukan rubrik KLASIKA yang menyajikan langkah-langkah untuk meniti karir lebih tinggi, apabila ini yang dikehendaki disarankan membaca www.kompas.kom
gavin
 16 Jun 2008
Menurut saya Tax Staff <> Tax Specialist.
Coba Baca ITR Vol VII Tahun 2007 ttg Tax Specialist.
Yang dikatakan Pak Abinzz itu menurut saya adalah pekerjaan Tax Staff Bukan Tax Specialist.
abinzz
 16 Jun 2008
duh maap pak sony, bukan maxud saya ingin menulis artikel baru pak hanya saja kalau membaca pendapat saya sendiri saya menjadi malu karena kalimat perkalimat tidak nyambung karna ada beberapa kata yang kurang ditulis (mohon di maafkan)...

selebihnya saya mohon maaf kalau pendapat saya tidak berkenan dihati rekan2x.. tapi menurut pandangan saya Pajak memang Complex dan multi education seperti yang dipaparkan oleh Pak Defiandry..

CMIIW
mungkin bapak Sony sudah pernah membaca buku Prof J. Adriani.
Pajak Berasal dari Ilmu Hukum lalu dalam pengembagannya Pajak masuk kedalam Politik (Fiskal) / moneter Negara, lalu beberapa hal masuk kedalam aspek Sosial U/ Penetapan PTKP,dsb. Sekiranya bapak Sony sudah tau dan mengerti..

kalau mengenai pantas atau tidak tulisan Pak Defiandry di taro dalam Hot Issues sejujurnya saya tidak berkompeten menanggapinya saya hanya mencoba melihat sudut pandang Pak Defiandry mengenai Tax Staff Being Tax Specialist..

-Thx-
Sony
 16 Jun 2008
Yth.Pk Abinzz,

Pak Abinzz bukannya menanggapi tulisan pak Defiandry, melainkan sebenarnya justru pak Abinzz sedang menulis artikel baru lagi.

Kelihatannya artikel pak Abinzz tsb boleh juga, saran saya selesaikanlah menulis artikelnya, selanjutnya diajukan ke Ortax untuk dimuat di Hot Issue.
abinzz
 15 Jun 2008
duh tulisan saya kurang lengkap,
setelah kata Msi., ada kata "tulis di atas"
jadi seharusnya "seperti Bapak Defiandri .......... Msi., tulis di atas"

pada tulisan baris ke 6 setelah kata "PAJAK" seharusnya ada kata "anda." lalu setelah titik ada kata "dan"
jadi seharusnya : "- bila melihat...... - PAJAK anda (pak Defi). Dan memang harus Balance.."
abinzz
 15 Jun 2008
Seperti Bapak Defiandry Taslim., SE., Ak, SH., Msi..

- saya ada setuju dan tidak setuju dengan articel anda,
dalam kuliah Pajak Juga ada Kuliah "MANAJEMEN PERPAJAKAN" saya yakin ini penting sekali,
- bila melihat posisi anda sekarang juga saya yakin kemampuan Manajemen - Akuntansi & Keuangan - Legal (Hukum) - PAJAK memang harus Balance.. tapi,,

Hal yang harus diperhatikan pak Defi, tidak setiap perusahaan mau menempatkan karyawan pajaknya se-level dengan bidang lain.. mungkin menurut mereka tax-staff cuma pelengkap,, dan mereka kira kerjaan tax staff itu cuma :
1. URUS PAJAK ke KPP
2. ITUNG PAJAK
3. SETOR PAJAK
4. LAPOR
itu cuma kerjaaan low management (dibawah tingkat supervisor)

menurut saya.. Ada hal yang lebih penting dan menarik untuk TAX-STAFF perusahaan lakukan!!.. bukankah dalam bussines plan juga harus dilihat aspek perpajakanya??

tapi smua itu tergantung kepada perusahaan juga pak Defi,, entah mereka "TAKUT" pajak atau kurang paham mengenai perpajakan Indonesia..

apalagi kalau kita ingin menjadi seorang tax-staff / tax-specialist pada multi corporate company with different bussines field (tak terbayang aspek pajaknya).
baracimmaster
 14 Jun 2008
Pajak adalah multi disiplin, pajak dalam level strategic merupakan bauran kompleks yang bukan hanya pajak dan akutansi saja. Tax specialis di perusahaan juga harus berwawasan luas, bukab hanya taraf clerical saja. Tapi usul lebih baik artikel di ortax lebih dimunculkan unsur pajaknya, sedangkan disiplin yang lain hanya melengkapi phenomenonya saja.
pageup2
 14 Jun 2008
Sepertinya Pak Defiandry mengajak kita untuk berpikir Out of the box..
Mencapai jenjang karir yang lebih tinggi pada profesi pajak...
karena selama ini profesi pajak di perusahaan maksimal hanya jadi manager. ini berbeda dengan profesi pengacara yang kini banyak menjadi CEO di berbagai perusahaan.
Olive
 14 Jun 2008
Selama ini perusahaan hanya dijadikan objek oleh Fiskus dan Konsultan. Fiskus menggenjot penerimaan negara dan cenderung meng-under estimate kita. Sedangkan konsultan seringkali over acting dan mendramatisir keadaan jika ada peraturan terbaru seolah-olah divisi pajak di suatu perusahaan bodoh semua dan tidak dapat menganalisa peraturan terbaru sehingga gampang ditakut-takuti yang ujung2nya kita diarahkan untuk menggunakan jasa mereka. Semoga kedepan profesi pegawai pajak di suatu perusahaan dapat lebih dihargai.
mira
 14 Jun 2008
Konsep yang Bapak kemukakan dapat menginspirasi kita2 yang menempati divisi pajak di suatu perusahaan. Sudah seharusnya kita menjadi tax specialis yang menguasai multi disiplin ilmu agar memiliki kemampuan analisa dan berpikir secara sistematis hingga memiliki landasan yang kuat dalam berargumentasi. Dengan demikian bukan tidak mungkin kita yang berasal dari divisi pajak dikemudian hari dapat menempati jajaran direksi di perusahaan tempat kita bekerja.
back to top