Berita

  • 24 Sept 2021
  • Harian Bisnis Indonesia

ISI Usul Diskon Pajak Hingga 2024

Bisnis, JAKARTA —Institute of Strategic Initiative mengusulkan diskon pajak penjualan atas barang mewah dirancang untuk jangka me ne-ngah setidaknya hingga 2024.

Direktur Institute of Strategic Initiative (ISI) Luky Djani mengatakan hal itu terutama untuk menjaga keberlanjutan dampak pengganda pada industri komponen otomotif.

Menurutnya, pabrikan otomotif membutuhkan proyeksi jangka menengah guna beralih ke pemasok komponen dalam negeri dari yang awalnya impor.

Dengan pertumbuhan permintaan dari pabrikan, imbuhnya, industri komponen membutuhkan waktu investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi sehingga nilai keekonomiannya tercapai.

“Misalnya pemberian PPnBM DTP [Pajak Penjualan Barang Mewah ditanggung pemerintah] sampai 2024 sehingga para pelaku usaha, pabrik-pabrik komponen bisa menyesuaikan,” katanya dalam webinar, Kamis (23/9).

Dia menilai investasi baru untuk menambah kapasitas pro duksi komponen dapat dikal kulasi jika diskon PPnBM berlaku jangka menengah. Selain itu, menurutnya, hal ini juga bisa memperkuat basis industri komponen dalam negeri.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengusulkan pemberlakuan kembali PPnBM pada awal tahun depan dilakukan secara ber tahap guna menjaga permintaan. 

Bila kebijakan itu tak diterapkan, menurutnya, akan terjadi demand shock karena adanya kenaikan harga mobil. Menurutnya, volume permintaan dan penjualan perlu dijaga untuk membuka keran investasi dan mengembangkan industri turunan otomotif dalam negeri. 

“Kalau ini bisa dipertimbang kan oleh pemerintah, kenaikannya bertahap, sehingga daya beli masyarakat yang tadinya lemah bisa pulih kem bali, sehubungan dengan industri pengolahan lainnya,” katanya.

Berdasarkan catatan ISI, insentif PPnBM memberikan dam pak peningkatan permintaan di sektor industri sebesar Rp29 triliun. 

Porsi permintaan terbesar terjadi di industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer mencapai Rp26 triliun, industri karet, barang dari karet dan plastik sebesar Rp736 miliar, dan industri peralatan listrik sebesar Rp609 miliar.


  • 24 Sept 2021
  • Harian Bisnis Indonesia