Ortax Forums Bahas Berita Empat Alasan Mengapa Pajak Pulsa Menjadi Penting

  • Empat Alasan Mengapa Pajak Pulsa Menjadi Penting

     eni updated 3 months, 1 week ago 2 Members · 2 Posts
  • ortax.org

    Administrator
    6 October 2021 at 7:45 am

    Mengapa Pajak Pulsa seperti dalam PMK Nomor 6 /PMK.03/2021, pada 22 Januari 2021, pada 10% (sepuluh persen) untuk Penghitungan dan Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai serta Pajak Penghasilan atas Penyerahan/Penghasilan Sehubungan dengan Penjualan Pulsa, Kartu Perdana, Token, dan Voucer (lihat PMK Nomor 6 /PMK.03/2021, pasal Pasal 2 (Objek Pajak);

    Alasan Pertama Mengapa Pajak Pulsa atau isi dalam PMK Nomor 6 /PMK.03/2021 menjadi Penting? Karena Indonesia terus mengalami terjadinya realisasi penerimaan lebih kecil dibandingkan target Penerimaan Pajak;

    Penerimaan perpajakan berdasarkan data realisasi sementara APBN Indonesia Tahun 2019 adalah Rp 1.545,30 triliun (APBN Kita Januari 2020, 2020). Kontribusi terbesar penerimaan pajak adalah dari sektor industri manufaktur, yaitu Rp 365,39 triliyun. Dibandingkan target, prosentase pencapaian penerimaan pajak tahun 2019 lebih rendah dibandingkan tahun 2018. Penerimaan pajak tahun 2019 adalah 84,44% sedangkan tahun 2018 adalah 92,23% (LAKIN DJP 2019, 2020).

    Penelitian Alex Cobham, Petr Jansky, (2018) Global distribution of revenue loss from corporate tax avoidance: reestimation and country results menemukan penghindaran pajak berpengaruh pada penurunan penerimaan pajak. Kerugian yang disebabkan oleh penghindaran pajak berdampak lebih besar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang bergantung pada penerimaan pajak. Penerimaan pajak suatu negara diukur berdasarkan angka rasio pajaknya.

    Menurut Dirjen Pajak (2017), rasio pajak adalah perbandingan penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto dimasa yang sama. Penerimaan pajak Indonesia terdiri dari penerimaan pajak pusat, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Minyak dan Gas, dan PNBP Pertambangan Umum. Berdasarkan Laporan Realisasi Pendapatan Direktorat Jenderal Pajak, total penerimaan pajak tahun 2013 — 2019 terus meningkat, tapi angka rasio pajak terus mengalami penurunan.

    Rasio pajak ini dipengaruhi berbagai faktor seperti kebijakan perpajakan, tarif pajak, efektifitas pemungutan pajak, insentif dan pengecualian pajak, dan terjadinya pidana pajak seperti penghindaran dan penggelapan pajak.

    Alasan Kedua Mengapa Pajak Pulsa atau isi dalam PMK Nomor 6 /PMK.03/2021 menjadi Penting? Alasan Ratio pajak Indonesia rendah dibandingkan dengan rata-rata rasio pajak Negara-Negara Asia Pasifik.

    The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam OECD Economic-Surveys Indonesia (2018) menyatakan pendapatan pajak Indonesia masih rendah sehingga membatasi pengeluaran publik untuk sektor lain. Jumlah wajib pajak yang memiliki NPWP meningkat, akan tetapi kepatuhan dari wajib pajak yang masih rendah. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh OECD (2018), kunci untuk meningkatkan pendapatan adalah dengan meningkatkan kepatuhan dan memperluas basis pajak.

    Menurut OECD, rasio pajak Indonesia rendah dibandingkan dengan rata-rata rasio pajak Negara-Negara Asia Pasifik. Walaupun demikian, ada hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis nilai rasio pajak ini. Ada perbedaan rasio pajak pemerintah Indonesia dengan Negara-Negara lain. Negara-Negara lain biasanya menggunakan definisi rasio pajak dari IMF atau OECD. Oleh karena itu, perlu memahami definisi rasio pajak yang dipakai Pemerintah Indonesia, IMF, dan OECD.

    Penerimaan pajak tahun 2016 hanya 14,11% dibandingkan dengan angka PDB Indonesia. Data menunjukkan penerimaan Indonesia masih rendah. Misalnya China mampu mengumpulkan pendapatan negara sebesar 27%, dan Jerman mengumpulkan pendapatan negaranya sebesar 44% dari Produk Domestik Bruto-nya (Kemenkeu, 2018)

    Kondisi ini menunjukkan bahwa sampai saat ini tingkat kepatuhan wajib pajak di Indonesia masih sangat rendah. Wajib pajak di Indonesia banyak yang mengeluhkan pajak yang dikenakan pemerintah. Padahal semakin sedikit wajib pajak yang tidak patuh dalam membayar pajak, maka semakin banyak juga yang menjadi free-rider (menikmati fasilitas negara tanpa berkontribusi) (Sri Mulyani Indrawati, 2018).

    Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah berupaya dengan segala cara untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak misalnya mengajak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk dapat menjadi sarana mendukung peningkatan kepatuhan perpajakan dengan melakukan sosialisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kerjasama yang dimaksud bersifat mendasar, seperti memahami apa itu pajak, kegunaan pajak, dan tata cara pelaporan pajak;

    Alasan Ketiga Mengapa Pajak Pulsa atau isi dalam PMK Nomor 6 /PMK.03/2021 menjadi Penting? Alasannya adalah kurangnya/lemahnya pengetahuan pajak oleh Warga Negara. Pada penelitian dengan judul Tax knowledge and attitudes towards taxation; A report on a quasi-experiment, oleh Knut Eriksen and Lars Fallan Journal of Economic Psychology, 1996, bahwa pengetahuan pajak merupakan elemen penting dalam mendukung kepatuhan pajak khususnya menentukan tingkat kepatuhan pajak yang akurat. Ada dua aspek, yaitu pengetahuan melalui pendidikan umum diterima sebagai hal yang biasa dan pengetahuan khusus diarahkan pada peluang untuk ketidakpatuhan pajak. Pengetahuan tentang hukum pajak dianggap penting untuk preferensi dan sikap yang baik terhadap perpajakan. Pengetahuan perpajakan berkaitan dengan pemahaman publik tentang pajak dan beberapa hal yang berkaitan dengan sistem perpajakan yang diterapkan. Dalam hal ini pengetahuan perpajakan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan perpajakan yang dirasakan oleh masyarakat.

    Maka kedepannya penting adanya upaya Peningkatan kepatuhan pajak dan perluasan basis pajak dilakukan oleh pemerintah dengan berbagai cara, salah satunya dengan peningkatan pengetahuan wajib pajak. Pengetahuan wajib pajak yang dimaksud bisa berupa pengetahuan tentang perpajakan maupun fasilitas perpajakan;

    Alasan Keempat Mengapa Pajak Pulsa atau isi dalam PMK Nomor 6 /PMK.03/2021 menjadi Penting? Alasannya adalah tingginya perilaku WP (wajib pajak) melakukan Strategi Penghindaran Pajak dengan menggunakan Celah Yang Ada; Praktik penghindaran pajak, thin capitalization, serta harga transfer merupakan keputusan majemen dalam menjalankan operasional perusahaan sebagai mana theoria Miller and Modigliani (1961) yang paling terkenal itu. Kemudian faktor ke tiga ini adalah bentuk lain pada teori Icek Ajzen tahun 1985, 1987 pada Theory of Planned Behavior), dan Theory of Reasoned Action oleh Martin Fishbein & Icek Ajzen,. 1967, 1970, 1975).

    George Turner (2017) pada riset “New estimates reveal the extent of tax avoidance by multinationals” dan dalam Pasal 6 UU No. 36 Tahun 2018, biaya bunga adalah biaya yang dapat dijadikan pengurang baik secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha.

    Biaya bunga pinjaman dapat pakai perusahaan untuk keperluan pajak karena adanya perbedaan perlakuan pajak atas dividen dan bunga atas utang. Perbedaan tersebut menjadi salah satu cara perusahaan terlibat dalam penghindaran pajak. Demikiakn juga riset Sonja Olhoft Rego tahun 2010 dengan judul TaxAvoidance Activities of U.S. Multinational Corporations, menemukan perusahaan di Amerika Serikat dengan leverage (rasio Utang/ Modal) tinggi memiliki tarif pajak efektif yang lebih rendah dengan memanfaatan utang untuk mengurangi pendapatan kena pajak. Pemanfaatan utang dalam aktifitas penghindaran pajak disebut dengan thin capitalization sebagaimana penelitian Graham and Tucker 2006; Kim et al. 2011.

    Penghindaran pajak dilakukan dengan metode transaksi harga transfer sesuai penelitian berjudul “Corporate Tax Avoidance and High-Powered Incentives” oleh Mihir A. Desai and Dhammika Dharmapala, Journal of Financial Economics, 2006, menemukan transaksi antar perusahaan afiliasi dengan lokasi berbeda, berpeluang menghindari pajak lebih banyak. Karena, perusahaan di yuridiksi tarif pajak tinggi dapat mengalihkan pendapatan dan pengeluaran ke yurisdiksi pajak yang rendah. Sehingga perusahaan yang berlokasi dengan tarif pajak tinggi menghasilkan laba yang kecil. Dan sebaliknya menghasilkan laba yang tinggi bagi perusahaan yang berlokasi di tarif pajak rendah. Cara ini dilakukan untuk mengeksploitasi adanya perbedaan aturan pajak di berbagai negara dan memanfaatkan perjanjian subsidi pajak.

    Hal ini didukung oleh data Pada tahun 2019, berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) per April 2019, nilai utang luar negeri swasta Indonesia untuk industri manufaktur sebesar USD $ 35 M, berdasarkan katagori investasi langsung, transaksi perusahaan induk dan perusahaan afiliasi untuk industri manufaktur sebesar $ 14 M. Berdasarkan data tersebut, transaksi utang piutang afiliasi kepemilikan institusi memberikan keutungan bagi perusahaan yang berafiliasi dalam melakukan transaksi utang piutang. Karena, selain utang dapat dijadikan sebagai aktifitas thin capitalization, transaksi utang piutang usaha dapat dijadikan kendaraan untuk melakukan aktifitas harga transfer.

    Demikianlah empat Alasan Mengapa Pajak Pulsa sesuai PMK Nomor 6 /PMK.03/2021 Menjadi Penting, dan harapan saya adalah kita sebagai warga Negara yang baik mematuhi apa yang dimuat dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 192/PMK.03/2007 Jo No. 74/PMK/2012 kategori wajib pajak yang patuh adalah sebagai berikut:

    -Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan;
    -Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak;
    -Laporan Keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut;
    -Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir.

    Sumber: https://www.kompasiana.com/balawadayu/601a5d308ede 481e47336972/empat-alasan-mengapa-pajak-pulsa-menj adi-penting

  • eni

    Administrator
    10 October 2021 at 2:43 pm

    test

Viewing 1 - 2 of 2 replies

Original Post
0 of 0 posts June 2018
Now