Forum Replies Created

Viewing 1 - 15 of 82 posts
  • maligesem

    Member
    24 May 2012 at 5:17 pm

    PPN Jasa Luar Negeri, lebih tepatnya jenis pajak ini adalah PPN pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari Luar daerah Pabean di dalam daerah pabean. untuk analogi paling mudah adalah seperti perlakuan PPN atas impor. kalo impor barang PPN impornya jelas dipungut oleh Bea Cukai ketika barang tersebut kita ambil dalam hal ini ada pihak yang ngontrol (BC). kalo impor jasa tentu tidak ada yang ngontrol, karena prinsip dalam perpajakan kita adalah self assesment maka atas transaksi impor jasa, ya PPNnya disetor sendiri oleh Wajib Pajak dengan SSP. terkait apakah PPN ini dapat dikreditkan, pada prinsipnya bisa dikreditkan. tetapi dalam kasus industri perhotelan, tentu harus dilihat dulu apakah usaha hotel ada PPN keluarannya? kalopun ada tentu tidak seluruhnya atas PPN tersebut dapat dikreditkan.

  • maligesem

    Member
    2 May 2012 at 11:02 am
    Originaly posted by bayem:

    bisa untuk mengurangi kerugian penjualan aktiva

    bayar pajaknya tambah dong, ruginya berkurang…
    apakah harus dengan revalusi dan bayar jasa appraisal?
    selisih rugi revaluasinya dibiayakan juga to?
    apa ruginya nambah karena bayar jasa appraisal?
    kalo mo jual aset pembelinya aja yang suruh mbayar jasa appraisal biar belinya gak kemahalan.

    Originaly posted by bayem:

    balik lg kan ke tax planning perusahaan sendiri.

    justru menurut saya keputusan melakukan revaluasi itu untuk mengurangi pajak yang akan timbul dimasa yang akan datang, nilai asetnya nambah, bayar pajak dulu final 10% atas selisih lebih revaluasi, tapi nantinya atas bertambahnya nilai aset disusutkan di tahun yad dapat mengurangi pajak 30% dapet selisih 20%.
    itu makdsud saya bahwa keputusan melakukan revalusi itu harus didasarkan pada pertimbangan managemen yg bersifat jangka panjang. (revaluasi aset untuk tujuan perpajakan)

  • maligesem

    Member
    2 May 2012 at 10:15 am
    Originaly posted by bayem:

    biasanya kalo hasil penilaian kembali dibawah nilai buku itu untuk jenis aktiva yang sudah rusak/tidak terpakai, tetapi masih punya nilai buku besar yang membebani laporan keuangan perusahaan

    manfaat dalam rangka tujuan perpajakan apa?

  • maligesem

    Member
    2 May 2012 at 9:54 am
    Originaly posted by janliman:

    bagimana jika ternyata hasil revaluasi dibawah nilai buku ?

    seharusnya tidak mungkin terjadi, karena revaluasi itu pasti didasarkan pada keputusan managemen yang sifatnya jangka panjang/lebih dari 5 tahun, dan terkait prospek bisnis yang baik dimasa yg akan datang. suatu kebodohan jika dia revaluasi hasilnya lebih rendah dari nilai buku, udah bayar jasa penilai, gak dapet manfaat pula.

  • maligesem

    Member
    30 April 2012 at 3:05 pm

    saya coba uraikan lagi permasalahannya, PT ABC merupakan PMA yang sahamnya dimiliki oleh PT A (dlm negeri) dan XX Ltd (Luar Negeri/Taiwan)
    PT ABC membeli mesin/impor mesin dari XYZ Ltd Taiwan melalui induknya/pemegang sahamnya yaitu XX Ltd.
    Selanjutnya XYZ Ltd mengirimkan karyawannya Mr. W ke indonesia, katakanlah untuk melakukan instalasi mesin yang dibeli oleh PT ABC.
    Aspek Pajak yang harus dilakukan PT ABC terkait Mr. W.?
    apakah seperti ini?

  • maligesem

    Member
    30 April 2012 at 12:08 pm
    Originaly posted by yuniffer:

    Mari Berubah Lebih Berguna.

    dimulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini, berfikir positif akan lebih baik.

  • maligesem

    Member
    30 April 2012 at 11:59 am

    Kawan kita dapet ap?, kalo dapet hak pengelolaan selama 3 th ya atas penghasilan itu aja yg menjadi objek pajak, kalo dia pkp ya hrs mungut PPN, PPh Badannya biasanya final (sewa tanah/bangunan).
    setelah tiga tahun uangnya dibalikin mestinya bukan objek pajak,
    semua itu mestinya tertulis dlm perjanjian.

  • maligesem

    Member
    30 April 2012 at 10:11 am
    Originaly posted by setyaindra27:

    berarti untuk penjualan tiket pesawat tidak perlu ada PPNnya.

    penghasilan agen sebenarnya ya komisi, ppnnya atas jasa keagenan, jasa penerbangan, yang mungut maskapai penerbangan, langsung kepada penumpang.
    kalo kita mau pilah2 sebenarnya permasalahan bisa terjawab kok.

  • maligesem

    Member
    27 April 2012 at 4:00 pm
    Originaly posted by arielta:

    Originaly posted by hendrioye:
    tapi kalo pake quantiti gimana?

    maksudnya b'gaimana?

    Jumlah persd awal (dlm Unit) a xxxxx
    Jumlah Pembelian (dlm unit) b xxxxx
    Brg tersedia dijual (dlm Unit) c (a+b) xxxxx
    Penjualan (dlm unit)/HPP d xxxxx
    Perd akhir (dlm Unit) e (c-d) xxxxx
    Metode pencatatan bisa bisa FIFO/LIFO/
    Metode Penilaian bisa Historical cost,LOCOM/Rata-rata
    Coba dulu secara unit gmn/ apa dah klop
    Secara Pajak yang diakui penilaian adalah Historical Cost.

  • maligesem

    Member
    27 April 2012 at 3:21 pm
    Originaly posted by setyaindra27:

    misalkan:
    Tiket dr BPW;150.000, br kita jual 200.000 sehingga 50rb income.
    apa komisi = 50rb dan PPN 10% dr komisi?, apa PPNnya bukan 1% dr komisi?.

    BPW, Jualan Paket Wisata, bukan tiket pesawat, biasanya agen menjual dg harga yang telah ditentukan oleh BPW, dari hasil penjualannya agen dapet komisi yg besarnya sesuai dg kontrak yg telah dibuat. nah seandainya dari harga jual 200.000 agen dapet komisi 50.000 maka invoicenya agen ke BPW tentu komisi 50.000 VAT. 10% dari 50.000=5.000.
    kalo atas jualan tiket setahuku maskapai penerbangan yang memberlakukan sistem komisi hanya Garuda dan Merpati, sedangkan yang lain tidak, dia diberikan harga agen oleh maskapai, dan bebas mo dijual dgn harga berapa, tapi kan agen dibatasi dgn harga maskapai yg bisa dilihat secara online, menurut saya dpp ppnnya :
    kalo tiket garuda/Merpati ya 10% dari komisi yang diterima
    sedangkan dari maskapai lainnya 10 % dari keuntungan.
    Sebenarnya akan lebih menarik jiak ada BPW menjual paketnya kepada orang indonesia yang mau berwisata ke Luar Negeri, ato menjual kepada orang LN yang mau berwisata di Indonesia, menurut saya tentu hanya salah satu yang merupakan objek PPN tapi yang mana? apa yang penjualan kepada orang LN ke Ind. ato Orang Ind. yg ke LN?

  • maligesem

    Member
    27 April 2012 at 2:01 pm
  • maligesem

    Member
    27 April 2012 at 1:27 pm
    Originaly posted by yuniffer:

    Tidak masalah apakah equipment tersebut dibawa atau tidak ke Indonesia, karena sifat dari royalti adalah aktif income tanpa melihat time test atau lokasi.

    saya kurang setuju, coba kita berfikir kalo kejadiannya sebaliknya, X ltd menugaskan mr Y untuk suatu proyek di Indonesia, terus selama di indonesia dia sewa mobil/equipment dari perusahaan di indonesia, seandainya aturan pajak UK, pembayaran sewa tersebut objek pajak, apakah X ltd motong pajak atas biaya sewa tsb?
    Kalo menurut saya penghasilan dari harta Berwujud/ bergerak bisa dilihat dimana dimanfaatkannya harta tsb, bisa dinegara Ind/UK sehingga baik ind/UK berhak memajaki, kalo harta tak gerak kan jelas yg berhak majaki adalah negara dimana harta tsb berada, kalo atas harta tdk berwujud(Royalty) jelas negara sumber berhak dengan pembatasan.
    dalam kasus ini dimanfaatkan di indonesia berapa lama? Kalo pengasilan tersebut atas bisnis profit, maka hanya bisa di pajaki di negara lainnya hanya apabila terdapat BUT di negara lainnya itu. BUT bisa juga berupa Aset.

  • maligesem

    Member
    26 April 2012 at 6:36 pm

    Secara Pajak Setahu saya dibedakannya bukan agen Sub Agen tetapi BPW=Biro Perjalanan Wisata dan Travel Agen, BPW adalah usahanya menjual Paket Perjalanan Wisata, PPNnya pake Norma yaitu 1% dari peredaran bruto ato dianggap DPPnya sebesar 10 % dari peredaran bruto, sedangkan Travel Agen penghasilannya adalah mendapatkan komisi atas penjualan tiket ato produknya BPW. PPNnya sama seperti yang lain 10 % dari komisi.
    Pada prakteknya BPW biasanya mempunyai divisi agen tiket pesawat, nah untuk yang ini tentu harus dipisahkan penghasilan komisinya dengan penghasilan dari jualan paket wisata.

  • maligesem

    Member
    26 April 2012 at 6:23 pm

    BUT=Bentuk Usaha Tetap, merupakan subjek pajak LN tetapi dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya dipersamakan dengan WP Dalam Negeri dan ada tambahan kewajiban PPh pasal 26 ayat 4, BUT merupakan Badan yang didirikan diluar indonesia tetapi melaksanakan kegiatan usaha di indonesia dalam jangka waktu tertentu sesuai UU ato P3B.
    PMA=Penanaman Modal Asing, Subjek Pajak Dalam Negeri, karena merupakan Badan yang didirikan berdasarkan UU di Indonesia, tetapi sahamnya sebagian ato seluruhnya dimiliki oleh asing.

  • maligesem

    Member
    26 April 2012 at 5:57 pm
    Originaly posted by tjahyono:

    1. Apakah saya perlu melakukan provisi penghapusan piutang dalam laporan keuangan tahunan 2011?

    secara komersial iya, tapi secara fiskal tidak/dikoreksi fiskal, tapi karena usahanya final jadi gak ngaruh.

    Originaly posted by tjahyono:

    2. Bagaimanakah perlakukan penghasilan final 1.2% dalam laporan keuangan tahunan 2011, apakah sudah terhutang di masa Desember 2011 atau masa Maret 2011 atau tidak terhutang sama sekali?

    di laporan komersial biasa, disajikan dibawah laba bersih sebelum pajak, secara fiskal dilaporkan per masa, digabung antara yang dipotong penyewa dan yang disetor sendiri jika penyewa bukan wajib potong, jadi sudah terutang di bulan maret.

    Originaly posted by tjahyono:

    3. Untuk penghapusan piutang, apakah saya harus menerbitkan Credit Note beserta Credit Faktur pajak di masa April 2012?

    sory yang ini gak tau pasti, soalnya untuk credit note FP biasanya adalah karena retur, tapi kalo penyisihan penghapusan piutang saya belum pernah ketemu aturannya, lagi pula secara fiskal cadangan penghapusan piutang tidak dapat dibiayakan kecuali usaha tertentu yang biasanya juga atas penyerahannya bukan objek PPN, (Bank, Asuransi, tambang) dibiayakan ketikapiutang, benar2 tdk tertagih dg syarat tertentu. mungkin rekan lain bisa mbantu..

Viewing 1 - 15 of 82 posts