• toniarism

    Member
    22 June 2013 at 9:11 am

    SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
    NOMOR SE – 51/PJ.43/1995

    1. Pada umumnya tenaga dokter di rumah sakit, berdasarkan status hubungan kerjanya dapat dibagi dalam 5 golongan, yakni :
    a. Dokter yang menjabat sebagai pengurus atau pimpinan rumah sakit;
    b. Dokter sebagai pegawai tetap atau pegawai honorer rumah sakit;
    c. Dokter tetap, yaitu dokter yang mempunyai jadwal praktek tetap (hari dan jam praktek tertentu), namun bukan sebagai pegawai rumah sakit;
    d. Dokter tamu, yaitu dokter yang merawat atau menitipkan pasiennya untuk dirawat di rumah sakit;
    e. Dokter yang menyewa ruangan di rumah sakit sebagai tempat prakteknya.
    2. Penghasilan para dokter sebagaimana pada butir 1, dapat dibedakan menjadi :
    a. Penghasilan yang bersumber dari keuangan rumah sakit atau dari Bendaharawan rumah sakit berupa gaji, tunjangan-tunjangan, honorarium, dan imbalan lainnya, yang diterima oleh para dokter kelompok 1.a dan 1.b.
    b. Penghasilan yang berasal dari pasien yang diterima oleh para dokter kelompok 1.a sampai dengan 1.c.
    3. Berdasarkan ketentuan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 jo. Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 26, maka pelaksanaan pemotongan PPh Pasal 21 oleh rumah sakit adalah sebagai berikut :
    a. Atas penghasilan pada butir 2.a. dipotong PPh Pasal 21 dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 26.
    b. Atas penghasilan pada butir 2.b. dipotong PPh Pasal 21 sebesar 15% x 40% x jumlah bruto jasa dokter. Yang dimaksud dengan jumlah bruto jasa dokter adalah jumlah imbalan jasa dokter dari pasien sebelum dipotong atau dikurangi dengan potongan-potongan oleh rumah sakit. Untuk lebih jelasnya, dengan ini

    Mungkin menurut pemahaman saya Perhitungannya sebagai karyawan tetap, mohon saran rekan