• irfanbachdim

    Member
    21 January 2019 at 4:04 pm

    Sebelum kita harus mengerti dulu tentang pemahaman Penghasilan menurut UU PPh Pasal 4 ayat 1 tentang penghasilan. berikut uraian dari pasal tersebut.

    1.Setiap tambahan kemampuan ekonomis. Dalam unsur ini, kita bahas dulu mengenai unsur tambahan. Tambahan artinya adalah unsur lebih, lebihan, selisih lebih. Pertanyaannya adalah lebih dari apa? Jika merujuk pada frase “Pajak Penghasilan”, maka jawabannya adalah penghasilan yang berlebih. Unsur berlebih inilah yang kemudian memberikan tambahan kemampuan ekonomis. Contoh: Abang nasi goreng. Untuk bahan-bahan jualan nasi goreng sampai dengan nasi goreng dijual, si abang ini perlu modal 100.000. Hasil penjualan nasi goreng adalah 120.000. Dengan demikian, selisih lebihnya adalah 20.000. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa pajak, dalam hal ini, menyebutkan bahwa objek pajak adalah penghasilan yang sifatnya “bersih”, sudah dikurangi dengan beban-beban terkait aktivitas untuk mendapatkan penghasilan.
    2.Yang diterima atau diperoleh. Konsep ini memberikan kita dua pengertian utama, yaitu “diterima” dan “diperoleh“. Diterima berarti konsep penghasilan/pendapatan yang diakui secara cash basis. Misalnya, abang nasi goreng jual nasi goreng kepada A. A membayar tunai sebesar 10.000. A menyerahkan tunai 10.000 kepada abang nasi goreng, dan abang nasi goreng menerima 10.000 dari A. Dengan demikian, abang nasi goreng menerima pendapatan sebesar 10.000. Diperoleh berarti konsep penghasilan/pendapatan yang menggunakan pendekatan accrual. Misalnya, A beli nasi goreng tapi utang karena dia nggak punya duit. Abang nasi goreng mempunyai piutang sebesar 10.000, dan A punya utang 10.000 kepada abang nasi goreng. Dalam hal ini, abang nasi goreng tidak menerima uang 10.000. Namun, ia memperoleh pendapatan 10.000 yang uangnya akan ia terima di kemudian hari. Perlu diperhatikan, bahwa pajak–dalam banyak hal–lebih berfokus pada cash basis.
    3.Baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Artinya adalah, tidak peduli darimana asal penghasilan. Mau dari dalam negeri, mau dari luar negeri, semuanya tetep kena pajak.
    4.Dapat digunakan untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan. Dalam unsur ini, kita harus berhati-hati dengan konsep konsumsi. Konsep ini biasanya mis-interpretasi dengan konsep cost. Kita kaitkan dengan unsur nomor 1. Tambahan adalah setiap penghasilan bersih, setelah dikurangkan dengan segala beban atau biaya untuk memperoleh pendapatan. Cost adalah segala biaya maupun beban dalam rangka memperoleh pendapatan. Dalam hal ini, cost sifatnya deductible (boleh dikurangkan) dari pendapatan kotor. Berbeda dengan konsumsi. Konsumsi adalah aktivitas yang tidak secara langsung atau bahkan tidak sama sekali mendatangkan manfaat. Konsumsi pun tidak bersifat deductible. Dia tidak boelh dikurangkan dari pendapatan kotor. Misalnya, abang nasi goreng membeli beras untuk keperluan nasi gorengnya. Beras disini adalah cost. Berbeda jika abang nasi goreng memakan satu porsi nasi gorengnya untuk keperluan sendiri karena dia lapar. Nasi goreng yang dimakan ini bukanlah cost, melainkan aktivitas konsumsi.
    5.Dengan nama dan dalam bentuk apapun. Inti dari hal ini adalah substance over form. Apapun itu, selama bisa memberikan manfaat ekonomi kepada kita, dapat memberikan tambahan kemampuan, maka kita pajak berlaku disitu.