Berita

  • 17 Feb 2017
  • Harian Kontan

Jokowi Persilakan KPK Usut Adik Iparnya

JAKARTA. Kasus suap pejabat Direktorat Jenderal Pajak mulai menemui titik terang. Handang Soekarno, mantan Kasubdit Bukti Permulaan Dirjen Pajak yang tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima uang suap dari Ramapanicker Rajamohanan Nair alias Rajesh Direktur Utama PT Eka Prima Ekspor Indonesia, mengakui bahwa ia melakukan kesalahan.

Ia berharap, tidak ada lagi pejabat pajak yang ditangkap KPK karena melakukan kesalahan serupa. "Saya telah melakukan kesalahan, saya akan mempertanggungjawabkan apa yang telah saya lakukan," kata Handang usai diperiksa KPK, Kamis (16/2).

Namun ketika ditanya soal keterkaitan Dirjen Pajak Ken Dwijugeasteadi dan pengusaha Arif Budi Sulistyo, Handang belum mau membeberkannya. "Kalau soal materi, saya enggak bisa jawab," ujarnya.

Arif Budi Sulistyo adalah Direktur Operasional PT Rakabu Sejahtera sekaligus adik ipar Presiden Joko Widodo. Ia diduga ikut menjembatani penyelesaian pajak yang dialami oleh PT EKP. Arif pernah menemui Ken di lantai 5 gedung Dirjen pajak untuk membantu Rajesh yang merupakan kolega bisnisnya.

Terkait hal itu, Presiden Jokowi mempersilakan KPK untuk melanjutkan proses hukum ke tingkat yang lebih tinggi, bila KPK telah menemukan bukti yang cukup untuk menjerat iparnya tersebut. "Kami hormati proses hukum di KPK. Kalau ada yang tidak benar, silakan diproses hukum," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Kamis (16/2).

Pada Pertengahan Januari lalu, KPK sejatinya telah memeriksa Arif. Hanya saja, pemeriksaan tersebut tidak di ketahui publik. Nama Arif baru muncul di dakwaan pada sidang perdana.

Saat ini, baru Handang dan Rajesh yang ditetapkan tersangka oleh KPK. Handang didakwa melanggar pasal 12 huruf a dan b atau pasal 11 UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor. Sementara Rajesh Pasal 5 ayat 1 huruf a dan b atau Pasal 13 di undang-undang yang sama.


  • 17 Feb 2017
  • Harian Kontan