PNBP 2013 Diprediksi Turun
Harian Seputar Indonesia,
14 Agustus 2012
JAKARTA– Harga minyak yang diprediksi terus melemah membuat pemerintah tidak mematok target tinggi di sektor penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada tahun 2013.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan,PNBP akan tetap memberikan kontribusi di tahun mendatang. Kendati demikian, kontribusinya akan lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena adanya tren penurunan harga minyak. Namun, Agus tidak membeberkan berapa target nilai PNBP untuk tahun depan.
“Jumlahnya akan lebih rendah dari pada tahun ini.Karena, harga minyak yang lebih rendah kita asumsikan dibandingkan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012, jadi penerimaan dari SDA (sumber daya alam) akan terpengaruh di PNBP,” papar Agus di kantornya, Jakarta, kemarin.
Sebagai catatan, penerimaan PNBP selama periode 2006–2011 tumbuh sebesar 4,3% dan menyumbang pendapatan dalam negeri sebesar 30,6%. Pada 2006 PNBP mencapai Rp227 triliun.Jumlah ini terus mengalami fluktuatif di tahun-tahun berikutnya yakni Rp215,1 triliun (2007),Rp320,6 triliun (2008), Rp227,2 triliun( 2009), Rp268,9 triliun (2010), serta Rp286,6 triliun (2011).
Selain peningkatan penerimaan SDA melalui barang tambang dan mineral, optimalisasi PNBP biasanya dilakukan dengan peningkatan lifting (produksi siap jual) migas, peningkatan kinerja BUMN, identifikasi potensi PNBP yang belum tergali,serta peningkatan pengawasan dan optimalisasi PNBP kementerian negara/lembaga.
Berbeda dengan penerimaan dari PNBP, Agus meyakini penerimaan negara dari sektor perpajakan, baik pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPn) ataupun bea cukai, bakal meningkat.Penerimaan pajak tahun depan juga bisa tumbuh 16% dibandingkan penerimaan pajak dalam APBN-P 2012.“Itu 16% adalah gabungan yang memang kita perlu tingkatkan, di PPh dan PPN,”jelasnya.
Agus menyampaikan, ada penambahan Pajak Penghasilan (PPh) dengan mening-katkan wajib pajak badan dan perorangan. Dalam APBN-P 2012 pemerintah menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp885,03 triliun yang terdiri dari penerimaan PPh Rp513,65 triliun, PPN Rp336,06 triliun, pajak bumi dan bangunan (PBB) Rp29,68 triliun, dan pajak lainnya Rp5,63 triliun.
Sementara,Dirjen Bea dan Cukai Agung Kuswandono mengungkapkan, penerimaan negara dari pajak perdagangan internasional sedikit kontradiktif. Penerimaan bea masuk akan mengalami kenaikan seperti halnya cukai.Namun, dia memperkirakan penerimaan pajak perdagangan internasional yang bersumber dari penerimaan bea keluar akan sedikit terkoreksi karena adanya penurunan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
“Sekarang ini penerimaan kita kira-kira 97%. Turun sedikit tapi secara total masih di atas target, termasuk bea keluar, bea masuk, dan cukai. Kalau bea masuk dan cukai itu masih di atas, tapi bea keluar turunnya cukup kelihatan,” imbuhnya. Dalam periode 2006–2010, pajak perdagangan internasional mengalami pertumbuhan rata-rata 21,6%.
Berdasarkan komposisinya, bea masuk memberikan kontribusi ratarata 80,1% sedangkan bea keluar 19,9%. Perkembangan penerimaan pajak perdagangan internasional ini sangat dipengaruhi aktivitas perdagangan dunia serta harga komoditas internasional, terutama CPO.“Dominasinya kan CPO. Harga CPO sekarang turun,” jelasnya.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan,PNBP akan tetap memberikan kontribusi di tahun mendatang. Kendati demikian, kontribusinya akan lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena adanya tren penurunan harga minyak. Namun, Agus tidak membeberkan berapa target nilai PNBP untuk tahun depan.
“Jumlahnya akan lebih rendah dari pada tahun ini.Karena, harga minyak yang lebih rendah kita asumsikan dibandingkan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012, jadi penerimaan dari SDA (sumber daya alam) akan terpengaruh di PNBP,” papar Agus di kantornya, Jakarta, kemarin.
Sebagai catatan, penerimaan PNBP selama periode 2006–2011 tumbuh sebesar 4,3% dan menyumbang pendapatan dalam negeri sebesar 30,6%. Pada 2006 PNBP mencapai Rp227 triliun.Jumlah ini terus mengalami fluktuatif di tahun-tahun berikutnya yakni Rp215,1 triliun (2007),Rp320,6 triliun (2008), Rp227,2 triliun( 2009), Rp268,9 triliun (2010), serta Rp286,6 triliun (2011).
Selain peningkatan penerimaan SDA melalui barang tambang dan mineral, optimalisasi PNBP biasanya dilakukan dengan peningkatan lifting (produksi siap jual) migas, peningkatan kinerja BUMN, identifikasi potensi PNBP yang belum tergali,serta peningkatan pengawasan dan optimalisasi PNBP kementerian negara/lembaga.
Berbeda dengan penerimaan dari PNBP, Agus meyakini penerimaan negara dari sektor perpajakan, baik pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPn) ataupun bea cukai, bakal meningkat.Penerimaan pajak tahun depan juga bisa tumbuh 16% dibandingkan penerimaan pajak dalam APBN-P 2012.“Itu 16% adalah gabungan yang memang kita perlu tingkatkan, di PPh dan PPN,”jelasnya.
Agus menyampaikan, ada penambahan Pajak Penghasilan (PPh) dengan mening-katkan wajib pajak badan dan perorangan. Dalam APBN-P 2012 pemerintah menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp885,03 triliun yang terdiri dari penerimaan PPh Rp513,65 triliun, PPN Rp336,06 triliun, pajak bumi dan bangunan (PBB) Rp29,68 triliun, dan pajak lainnya Rp5,63 triliun.
Sementara,Dirjen Bea dan Cukai Agung Kuswandono mengungkapkan, penerimaan negara dari pajak perdagangan internasional sedikit kontradiktif. Penerimaan bea masuk akan mengalami kenaikan seperti halnya cukai.Namun, dia memperkirakan penerimaan pajak perdagangan internasional yang bersumber dari penerimaan bea keluar akan sedikit terkoreksi karena adanya penurunan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
“Sekarang ini penerimaan kita kira-kira 97%. Turun sedikit tapi secara total masih di atas target, termasuk bea keluar, bea masuk, dan cukai. Kalau bea masuk dan cukai itu masih di atas, tapi bea keluar turunnya cukup kelihatan,” imbuhnya. Dalam periode 2006–2010, pajak perdagangan internasional mengalami pertumbuhan rata-rata 21,6%.
Berdasarkan komposisinya, bea masuk memberikan kontribusi ratarata 80,1% sedangkan bea keluar 19,9%. Perkembangan penerimaan pajak perdagangan internasional ini sangat dipengaruhi aktivitas perdagangan dunia serta harga komoditas internasional, terutama CPO.“Dominasinya kan CPO. Harga CPO sekarang turun,” jelasnya.







Buku Susunan Dalam Satu Naskah 9 (Sembilan) UU Perpajakan merupakan himpunan Undang-Undang Perpajakan Indonesia yang disusun secara sistematis dan user ...


